Tampilkan postingan dengan label MATERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI. Tampilkan semua postingan

Diagnasa Keperawatan NANDA NOC NIC

Pengertian Diagnosa Keperawatan   A nursing diagnosis is a clinical judgment about individual, family, or community responses to actual or potential health problems / life processes.  Nursing diagnoses provide the basic for selection of nursing interventions to achieve outcomes for which the nurse is accountable (NANDA, 1992 p.5)
Jadi diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu,  keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976& NANDA).
Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi  respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial.
Dibeberapa  negara mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan praktik keperawatan sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. Diagnosa keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti dimana perawat bertanggung jawab di dalamnya ( Kim et al, 1984).
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat. Diagnosa keperawatan, sebagai suatu bagian dari proses keperawatan juga direfleksikan dalam standar praktik ANA. Standar-standar ini memberikan satu dasar luas mengevaluasi praktik dan merefleksikan pengakuan hak-hak manusia yang menerima asuhan keperawatan ( ANA, 1980).
Untuk lebih jelasnya tentang diagnosa keperawatan bisa dilihat di sini (DiagnosaKeperawatan NANDA NOC NIC)

DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA NIC NOC 2011


NANDA menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah ”keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat”.
Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data, dimana menurut NANDA diartikan sebagai ”defenisi karakteristik”. Definisi karakteristik tersebut dinamakan ”Tanda dan gejala”, Tanda adalah sesuatu yang dapat diobservasi dan gejala adalah sesuatu yang dirasakan oleh klien. Diagnosa keperawatan menjadi dasar untuk pemilihan tindakan keperawatan untuk mencapai hasil bagi anda, sebagai perawat, yang dapat diandalakan (NANDA Internasional, 2007). Pelajari diagnosa keperawanan nanda tahun 2011 disini

PEMERIKSAAN FISIK (IPPD 1)


A.       Anamnesis
Anamnesis berasal dari kata Yunani artinya Mengingat kembali. Anamnesis Adalah: Cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara baik langsung pada pasien ( Auto anamnesa) atau pada orang tua atau sumberlain (Alloanamnesa). 80% untuk menegakkan diagnosa didapatkan dari anamnesa.

GANGGUAN KOMUNIKASI (KOM.KEP)


 Gangguan komunikasi (communication disorder) adalah terjadiya suatu hambatan dalam komunikasi, hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor fisik atau psikologis

Agar lebih mudah dalam mempelajari materi ini silahkan unduh materinya Di sini

PEMERIKSAAN PENYAKIT PADA TUBUH (IPPD 1)

Pengertian penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang manyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang di pengaruhinya.

Dari pengertiannya itu, kita bisa mangambil kesimpulan, bahwa adanya sesuatu keadaan yang tidak normal, dan gangguan padah tubuh maupun pikiran seseorang. Yang menyebabkan rasa tidak nyaman, bisa di sebut sebagai penyakit. Untuk materi selengkapnya silahkan Lihat disini

FORMAT PENGKAJIAN PADA ANAK (IPPD 1)

Pengkajian kesehatan pada anak, dimulai dengan bayi berumur satu bulan dan di akhiri denga anak usia belasan tahun pada masa remaja akhir. Meskipun proses pengkajian fisik dirinci ke dalam evaluasi berbagai sistem tubuh, perawat  perlu mengambil pendekatan sebagian untuk pengkajian fisik, kenyataannya ,pengkalian fisik bersifat kontinyu dan terjadi selama wawancara kesehatan. Pengkajian akan lebih mudah bagi anak, orang tua, dan pemeriksa jika sudah terjalain hubungan saling percaya dan komonikasi dapat membantu membuat pengkajian menjadi sebuah pengalaman yang lebih positif. Untuk lengkapnya silahkan Lihat di sini

ASPEK-ASPEK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN YANG DIPATAU

Aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan dilihat dari segi fisik, social, intelektual, dan emosi, serta tahapan masing-masing usia (Suryanah. 1996) sebagai berikut:
1. Berat badan
Bayi baru lahir memiliki berat badan 2500-3000 gram. kemudian akan terjadi penurunan berat badan secara fisiologis antara 5%-10%. Setelah 10-14 hari, berat badan bayi akan kembali normal. Bayi mengalami empat penyesuaian ulama sebelum mencapai kemajuan dalam pertumbuhan dan perkembangan: perubahan suhu, pernapasan, mengisap, menelan, dan cara pembuangan melalui organ-organ sekresi
2. Panjang badan
Panjang badan bayi saat lahir sekitar 48-50 cm. Pada akhir tahun pertama kehidupan, terjadi penambahan 25 cm sehingga ketika usia 1 tahun tinggi badan anak mencapai 75 cm.
Tahap pertumbuhan tinggi badan pada anak:
  1. Usia 1 tahun, sekitar 73-75 cm,      c. Usia 3 tahun, sekitar 83 cm,   
  2. Usia 2 tahun, sekitar 80 cm,   
3.  Lingkar kepala
  1. Ukuran kepala anak merupakan salah satu ukuran yang penting pada tubuh karena berhubungan erat dengan isi tengkorak yang berhubungan dengan pertumbuhan Otak. Ada dua macam ukuran kepala yang penting:
  2. a. Diameter antero-posterior (ukuran muka belakang) b. Diameter tranversal (ukuran ke samping kiri/kanan) melalui tulang ubun-ubun kanan-kiri.


KOMUNIKASI TERAPEUTIK

·         PENGERTIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien (Purwanto, 1994 ). Menurut Stuart & Sundeen (1995), komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik,melibatkan penyampaian informasi dan pertukaran perasaan serta pikiran untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi terapeutik dapat juga dipersepsikan sebagai proses interaksi antara klien dan perawat yang membantu klien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi diri ( konzier et al, 2000).
          Komunikasi terapeutik berbeda dengan komunikasi sosial. Komunikasi terapeutik selalu mengandung tujuan atau arah yang spesifik untuk komunikasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, memiliki tujuan, dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien membina hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien.

·         FUNGSI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Fungsi komunikasi terapeutik menurut Vancarolis (1990) adalah mendorong dan menganjurkan kerja sama perawat – klien melalui hubungan keduanya. Perawat berusaha mengungkapkan perasaan untuk mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan.
          Dwidiyanti (2008) mengatakan bahwa perawat profesional selalu mengupayakan untuk berperilaku terapeutik, yang berarti bahwa setiap interaksi yang dilakukan menimbulkan dampak terapeutik yang memungkinkan klien tumbuh dan berkembang.

·         KOMUNIKASI TERAPEUTIK SEBAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL
Perawat harus memiliki tanggung jawab yang tinggi yang didasarkan pada kepedulian dan kasih sayang serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Abdalati (1983), Bucauli (1978), dan Amsari (1995) mengatakan bahwa sebagai orang yang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak peduli. Individu yang  tidak peduli terhadap orang lain adalah “pendosa” yang mementingkan dirinya sediri. Menurut Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979), Human care terdiri atas upaya melindungi,meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain dalam mencari arti Sakit, penderitaan, dan keberadaannya dengan membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri


TAUKAH ANDA APA ITU EMBOLI....?

Pengertian Emboli
Emboli adalah hambatan pada aliran pembuluh darah. Hambatan yang dimaksud di sini bisa berupa gelembung udara atau darah yang menggumpal. Emboli yang muncul pada tubuh manusia dapat mengganggu organ tubuh karena kekurangan oksigen.
Organ-organ vital tubuh manusia, seperti otak, jantung dan paru-paru, tidak bisa berfungsi dengan baik ketika pasokan oksigen terhambat. Pada otak, emboli menyebabkan stroke. Sedangkan pada paru-paru, emboli menyebabkan embolisme paru. Bukan hanya fungsi organ saja yang terganggu, namun terlalu lama kekurangan oksigen bisa membuat jaringan organ tersebut rusak secara permanen.

Gejala Emboli
Berikut ini adalah beberapa gejala yang dapat terjadi akibat emboli pada paru-paru:
Sesak napasSakit pada dada yang lebih parah ketika bernapas dan batukBatuk-batuk, bisa mengeluarkan darahBerkeringat berlebihanPusingDetak jantung yang cepat
Jika emboli menghambat aliran darah ke otak, maka akan terjadi gejala-gejala stroke.
Emboli berpotensi menghambat aliran darah ke suatu organ secara menyeluruh dan ini berpotensi berakibat fatal. Segera ke rumah sakit terdekat jika Anda mengalami gejalastroke atau embolisme paru.

Penyebab Munculnya Emboli
Emboli, atau hambatan pada pasokan darah ke jaringan dan organ tubuh, bisa berupa banyak hal, antara lain:
Lemak. Tulang yang mengalami keretakan bisa mengakibatkan terlepasnya partikel lemak di dalam tulang ke dalam aliran darah. Selain itu, lemak juga bisa masuk ke aliran darah jika terjadi komplikasi setelah menjalani operasi tulang atau karena terjadi luka bakar yang cukup parah.Gumpalan darah. Untuk mencegah terjadinya pendarahan berlebihan saat terjadi luka, darah akan menggumpalkan secara alami. Tapi beberapa kondisi, seperti penyakit jantung, kegemukan atauobesitas, kanker, dan kehamilan bisa menyebabkan darah menggumpal lebih mudah meski tidak terjadi luka. Salah satu penyebab utama emboli paru adalah terjadinya penggumpalan darah pada pembuluh vena dalam kaki yang kemudian terlepas dan menuju ke paru-paru.Air ketuban. Ini adalah cairan yang mengelilingi dan melindungi bayi di dalam rahim. Meski kondisi ini sangat langka, cairan amniotik bisa masuk ke pembuluh darah sang ibu saat proses melahirkan dan menyebabkan penyumbatan.Kolesterol. Aterosklerosis adalah penyempitan pembuluh arteri yang disebabkan oleh penimbunan kolesterol. Apabila kondisi yang terjadi cukup parah, sebagian kecil kolesterol bisa terlepas dan menyebabkan terjadinya emboli atau hambatan pada aliran darah.Udara. Gelembung udara atau gas juga bisa memasuki aliran darah. Kondisi ini merupakan penyebab kematian utama di antara para penyelam. Seorang penyelam yang naik ke permukaan dengan cepat akan mengalami perubahan tekanan drastis. Ini bisa menyebabkan munculnya gelembung nitrogen di dalam aliran darah. Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya penyakit dekompresi.
Selain beberapa penyebab di atas, terdapat pula beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami emboli, yaitu:

Sedang hamil.Mengalami kegemukan atau obesitas.Merokok.Menderita penyakit jantung.Berusia di atas 60 tahun.Tidak bergerak atau aktif dalam jangka waktu lama.

Pengobatan Kondisi Emboli
Pengobatan yang dilakukan pada kondisi emboli sangat bergantung kepada penyebab munculnya penyumbatan, ukuran penyumbatan yang muncul, dan lokasi penyumbatan tersebut.
Obat-obatan bisa diberikan untuk melarutkan penggumpalan darah yang muncul.  Pengobatan ini dikenal dengan nama trombolisis dengan memakai obat-obatan antikoagulan. Obat yang biasanya digunakan adalah warfarin, heparin, dan aspirin dosis rendah. Obat-obat ini bisa mencegah bertambahnya darah yang menggumpal dan membuat darah menjadi tidak terlalu kental.
Embolektomi adalah prosedur operasi yang bisa dilakukan untuk menghilangkan sumbatan yang terbentuk. Pembuluh darah yang mengalami penyumbatan akan dibedah dan sumbatan yang ada akan disedot.
Khususnya pada kasus emboli yang terjadi karena gelembung udara, pasien akan dimasukkan ke dalam ruangan hiperbarik. Tekanan udara di dalam ruangan hiperbarik lebih tinggi dari tekanan udara di luar ruangan. Dengan cara ini, ukuran gelembung udara di dalam tubuh seorang penyelam akan berkurang.

Mencegah Emboli
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya emboli.
Menurunkan berat badan. Jika mengalami berat badan berlebih, lakukan olahraga secara teratur dan lakukan diet rendah kalori untuk mencapai berat badan yang sehat.Berhenti merokok.Pola makan sehat. Mulai biasakan mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, rendah lemak, dan rendah garam.Berolahraga. Lakukan olahraga setidaknya dua setengah jam dalam seminggu agar tubuh tetap aktif dan aliran darah lancar.

PENYAKIT HIPOTENSI

      A. PENGERTIAN
Hipotensi adalah keadaan seseorang yang memiliki tekanan darah yang kurang dari 90/60 mmhg. Sedangkan tekanan darah normal orang sehar-hari mempunyai tekanan darah optimal 120/80 mmhg, meskipun sebenarnya seseorang bisa dikatakan memiliki tekanan darah normal jika tekanan darahnya 130/85 mmhg. Sebelum kita  bahas tentang penyebab dan gejala hipotensi atau tekanan darah rendah

      B. Gejala Hipotensi
Tidak semua yang mengalami hipotensi akan merasakan gejala. Kondisi hipotensi juga tidak selalu memerlukan perawatan. Namun jika tekanan darah cukup rendah, kemungkinan besar bisa menimbulkan gejala-gejala seperti berikut ini.
1.  Jantung berdebar kencang atau tidak teratur.
2.  Pusing.
3.  Lemas.
4.  Mual.
5.  Kehilangan keseimbangan atau merasa goyah.
6.  Pandangan buram.

C. Penyebab Hipotensi
1.  Pemompaan jantung melemah :  Karena kurangnya pemompaan jantung maka hal ini bisa menyebabkan aliran darah keseluruh tubuh melemah pula, secara otomatis tekanan darah juga melemah yang akhirnya menyebabkan hipotensi.
2.  Kekurangan cairan :  Jangan anggap sepelekan masalah kekurangan cairan, baik itu karena seseorang memang jarang minum ataupun karena seseorang sedang terkena diare dan demam, Karena yang sering terjadi jika seseorang sedang demam biasanya memang disertai dengan rasa pusing. Dan hal itu bisa menjadi salah satu penyebab hipotensi.
3.  Otot jantung melemah : Hal ini bisa berakibat pada volume darah yang dipompa oleh jantung sedikit dan akibatnya tekanan darah menurun dan hal ini memicu terjadinya hipotensi.
4.  Adanya pembekuan darah dalam pembuluh Vena :  Apabila hal itu terjadi maka akan menghalangi kembalinya darah kedalam bilik kiri dari paru-paru, akibatnya darah yang kembali ke jantung akan berkurang. Dan hal itu bisa menjadi pemicu hipotensi.
      5. Efek samping obat-obatan : Efek samping dari obat-obatan ini sebenarnya tidak langsung menjadi penyebab hipotensi karena kondisi seseorang berbeda-beda, kadang ada yang kuat saat minum obat tertentu tapi ada juga yang tidak. Contohnya ketika seseorang minum obat hipertensi, antidepresan dan lain sebagainya.

GAGAL JANTUNG (HEART FAILURE)

A.  Pengertian.
Suatu kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh (Purnawan Junadi, 1982).
Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ (Ni Luh Gede Yasmin, 1993).

B.  Insiden
Gagal jantung dapat di alami oleh setiap orang dari berbagai usia. Misalnya neonatus dengan penyakit jantung kongenital atau orang dewasa dengan penyakit jantung arterosklerosis, usia pertengahan dan tua sering pula mengalami kegagalan jantung (Ni Luh Gede Yasmin, 1993)

C. Mekanisme hipertensi meningkatkan resiko
Bila kebanyakan pembacaan tekanan diastole tetap pada atau di atas 90 mmHg setelah 6-12 bulan tanpa terapi obat, maka orang itu di anggap hipertensi dan resiko tambahan bagi penyakit jantung koroner.
Secara sederhana di katakan peningkatan tekanan darah mempercepat arterosklerosis dan arteriosklerosis sehingga ruptur dan oklusi vaskuler terjadi sekitar 20 tahun lebih cepat daripada orang dengan normotensi. Sebagian mekanisme terlibat dalam proses peningkatan tekanan darah yang mengkibatkan perubahan struktur di dalam pembuluh darah, tetapi tekanan dalam beberapa cara terlibat langsung. Akibatnya, lebih tinggi tekanan darah, lebih besar jumlah kerusakan vaskular.

ASMA BRONKIAL

1.      Pengartian
Asma Bronkial adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai oleh spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi alveolus. ( Huddak & Gallo, 1997 )
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berspon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.
      ( Smeltzer, 2002 : 611)
            Asma adalah obstruksi jalan nafas yang bersifat reversibel, terjadi ketika bronkus mengalami inflamasi/peradangan dan hiperresponsif. (Reeves, 2001 : 48)

2.      Penyebab
a.       Faktor Ekstrinsik (asma imunologik / asma alergi)
-         Reaksi antigen-antibodi
-         Inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang)
b.       Faktor Intrinsik (asma non imunologi / asma non alergi)
-         Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal
-         Fisik : cuaca dingin, perubahan temperatur
-         Iritan : kimia
-         Polusi udara : CO, asap rokok, parfum
-         Emosional : takut, cemas dan tegang
-         Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
(Suriadi, 2001 : 7)

3.      TANDA DAN GEJALA

1.                   Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
a.             Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
b.Rochi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul
c.             Whezing belum ada
d.            Belum ada kelainan bentuk thorak
e.             Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
f.              BGA belum patologis

Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan

a.       Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
b.      Whezing
c.       Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
d.      Penurunan tekanan parsial O2
2. Stadium lanjut/kronik
a.       Batuk, ronchi
b.       Sesak nafas berat dan dada seolah –olah tertekan
c.       Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
d.      Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
e.       Thorak seperti barel chest
f.        Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
g.       Sianosis
h.       BGA Pa O2 kurang dari 80%
i.         Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
j.         Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis respiratorik

 (Halim Danukusumo, 2000, hal 218-229)

PENGERTIAN URINE

Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.Secara umum urin berwarna kuning. Urine encer warna kuning pucat (kuning jernih), urine kental berwarna kuning pekat, dan urine baru/segar berwarna kuning jernih.Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh.Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia.Ph urin berkisar antara 4,8 – 7,5, urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035.

Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badanketon zat sisa metabolism lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat,Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb).

Volume urin normal per hari adalah 900 – 1400 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi.

Tujuan dari pemeriksaan spesimen urin adalah

1.      Untuk mengetahui adanya kelainan urin secara langsung. Urin akan diambil sebagai spesimen atau sampel laboratorium apabila diperlukan. Beberapa kasus yang memerlukan sampel urin adalah diabetes, proteinuria, dan adanya gangguan ginjal.

2.      Untuk membantu penegakan dini diagnosa awal.
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos.

AMPUTASI

Pengertian Amputasi

Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.

Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi
Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :
1.      Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.
2.      Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.
3.      Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.
4.      Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya.
5.      Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.
6.      Deformitas organ.

Jenis Amputasi

Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi :
1.      amputasi selektif/terencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir
2.      amputasi akibat trauma
Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
3.      amputasi darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.
Jenis amputasi yang dikenal adalah :
1.      amputasi terbuka
2.       amputasi tertutup.
 Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur, mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk penggunaan protese ( mungkin ). Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan kompetensinya.